Mengetahui bahwa beberapa kawan dari Jember datang ke Malaysia untuk mempresentasikan papernya pada Malaysia international coco conference, saya merasa senang dan ingin segera menemui mereka. Di tengah kesibukan penelitian di lab, akhirnya hari ini saya bisa pergi ke Berjaya times square tempat konferensi diselenggarakan. Meski harus kecewa karena tidak sempat bertemu Dr. S yang telah pulang lebih dulu, namun bertemu Dr. M dan kawan-kawan cukup untuk menimba pengalaman dari mereka. Terlebih Dr. M terbilang sukses menempuh S2 kemudian convert S3 di UPM dalam waktu 3,5 tahun. Ketika saya bertanya, apa kunci sukses studi di UPM, beliau menjawab secara singkat “doa”. Sebuah kata, yang meski setiap hari, bahkan setiap saat penulis panjatkan, tetapi ketika kata-kata itu keluar dari mulut seorang peneliti, maka tetap memberikan kesan yang berbeda.
Dalam suasana “kekeluargaan” sambil menyantap jamuan makan malam di sebuah restoran di kompleks Berjaya time’s square, saya terharu bahwa Alloh SWT telah memberikan rahmat yang luar biasa kepada mereka, sehingga putra-putra Indonesia bisa berpartisipasi sekaligus menimba ilmu dan meraih pengalaman di banyak belahan dunia, eropa, amerika, dan lainya. Dalam perjalanan pulang ke serdang, dalam KRL saya berfikir, pasti banyak sekali ilmu dan nilai-nilai positif yang mereka peroleh. Saya yakin ratusan, ribuan, bahkan ratusan ribu orang Indonesia telah diberi kesempatan dan kesuksesan dalam menuntut ilmu di manca Negara. Dalam lamunan saya membayangkan, seandainya ilmu mereka bisa “berkah” kepada bangsa dan rakyat tentu Indonesia tidak merana.
saya pun, yang juga merupakan satu diantara ratusan ribu orang indonesia yang berkesempatan kuliah di luar negeri, berfikir “seandainya ilmu ini bisa memberi berkah kepada rakyat indonesia, tentu senyuman bahagia mereka bisa membahana”.
Tapi,…. Saat ini, kebanyakan mereka justru menangis…
Dalam ketidakberdayaan, mereka hanya bisa “ber-andai-andai”
Seandainya pertanian di Indonesia maju, tentu 60 % penduduk indonesia yang notabene adalah petani tidak akan miskin dan termarjinalkan.
Seandainya ekonomi Indonesia mapan, tentu tidak mereka tidak terjerat hutang dan susah makan.
Seandainya pendidikan Indonesia baik, tentu rakyat tidak terkungkung dalam kebodohan.
Seandainya…………
seandainya…..
seandainya…
Dulu, Ir soekarno bersama kaum terpelajar lainya, telah sukses mengantar Indonesia “merdeka” dan berdaulat sebagai Negara. Bisakah kaum cendikiawan yang saat ini ada, mampu membawa rakyat Indonesia “merdeka” sebagai Bangsa atau bahkan sebagai manusia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar