Menjelang hari raya Idul Fitri, biasanya para pedagang retail atau toko-toko berlomba menarik konsumen dengan iming-iming diskon. Booming diskon terutama pada produk pakaian dan makanan. Gayung bersambut, para pembeli yang sebagian besar umat islam berharu biru, berlomba mencari baju dan aneka kue lebaran. Tak ayal mulai dari pasar tradisional sampai supermarket ramai diserbu pengunjung. Di sepertiga terakhir bulan ramadhan, keraimaian pasar melebihi ramainya sholat jama’ah dan tadarus Al-qur’an di masjid atau mushola.
Ironi memang, tapi apa mau dikata ketika kebiasan sudah menjadi budaya. Padahal, kalo kita mau cermat, sesungguhnya Alloh SWT. telah menyediakan diskon dan grasi yang luar biasa besar bagi orang yang beriman di bulan nan penuh berkah ini.
Bagaimana tidak, surga yang dijanjikan Alloh bagi umat manusia yang bertaqwa, dapat dengan mudah diraih di bulan nan penuh rahmat ini. Paket-paket kemudahan yang tersedia begitu gampang kita jalankan, misalnya dengan tadarus (membaca) Al-qur’an maka surga yang penuh dengan kenikmatan tak trbayangkan akan merindukan kita.
Tidak hanya itu, semua amal baik umat muslim dilipatgandakan nilainya di mata Alloh. Pendek kata manusia akan dengan mudah mengumpulkan poin untuk memesan kaplingan tanah lengkap dengan rumah dan perabotnya serta kendaraan mewah di surga. Diskon yang disediakan Alloh tidak seperti diskon baju di toko-toko yang acapkali hanya tipuan, bandrol harga dinaikkan kemudian dipasang diskon hingga 70%, sehingga seolah-olah baju murah padahal tetap saja mahal. Diskon yang disediakan Alloh justru disertai dengan dibelenggunya setan sang penggoda, sehingga manusia tidak perlu mengalahkan setan untuk meniti JalanNya.
Grasi atau pengampunan atas kesalahan dan pembebasan hukuman merupakan idaman setiap nara pidana. Tidak ada manusia tanpa salah dan dosa, dan setiap Pendosa pasti mengharapkan grasi (maghfiroh) atau pengampunan atas segala kekhilafan dan dosa. Nah .. kalo grasi di negeri ini biasanya dibagi-bagikan setiap bulan kemerdekaan (Agustus), grasi bagi umat islam diobral di bulan nan penuh maghfiroh yaitu bulan ramadhan. Sebagaimana disabdakan Nabi Muhammad SAW “barang siapa yang berpuasa di bulan ramadhan karena iman dan mengharap keridhoanNya, maka Alloh akan menmgampuni dosa-dosanya yang telah lalu.
Setiap dosa manusia akan diganjar hukuman dalam penjara Alloh yaitu neraka sesuai dengan besar kecilnya dosa. Sungguh keberuntungan yang luar biasa ketika terpidana (pendosa) mendapatkan grasi sebelum dia mencicipi jeruji besi dan berkenalan dengan mafia peradilan dan yang pasti tidak perlu mengeluarkan uang.
Yah, ramadhan datang dengan kewajiban berpuasa bagi setiap mukmin, memang penuh makna. Hikmah terbesarnya adalah tercapainya ketaqwaan, sebagaimana termaktub dalam Al-qur’an surat Al-baqarah ayat 183 yang artinya “Hai orang-orang yang beriman diwajibkan kepadamu puasa sebagaimana diwajibkannya atas orang-orang sebelum kamu supaya kamu bertaqwa.”
Permasalahannya, dapatkah kita meraih tiket ke surga, kalau kita sibuk berebut diskon di Matahari atau supermarket yang lain dan melalaikan tawaran Tuhan di Masjid? Jawabannya adalah apakah setelah ramadhan berlalu, kita bisa meraih ketaqwaan ? Kalau tidak mungkin surga tetap ada dalam mimpi atau dongeng usang para Dai.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar