20 Juli, 2010

Ramadlan di Negeri Jiran

Tahun 2009 adalah tahun kedua kami menikmati suasana ramadlan di Malaysia, tepatnya di lingkungan Kampus Universiti Putra Malaysia (UPM). Sebagaimana tahun lalu, suasana ramadlan disini tidak jauh beda dengan di Indonesia. Mungkin karena Malaysia dihuni sebagian besar bangsa melayu. Meski, tidak semeriah Ramadlan di Indonesia, tetap ada beberapa hal yang unik disini, yang menarik untuk dibaca.

Berpuasa sehari penuh di UPM terasa lebih lama dibanding berpuasa di Jember. Panas matahari yang menyengat, karena kawasan Serdang berada di bawah garis ekuator. Bila biasanya hampir semua orang selalu membawa air minum, saat puasa kami hanya bisa menelan lidah. Terlebih melihat banyaknya mahasiswa bangsa cina dan india makan dan minum dimana saja dan kapan saja. Luasnya kampus UPM yang lebih dari 1000 Ha, dan jarak antar gedung yang berjauhan, juga berkontribusi pada terbakarnya kalori saat kami berjalan kaki. Beruntung, bagi yang sudah punya kendaraan sendiri, seperti motor, dan mobil, karena bila menunggu bus kampus, terkadang lama dan ngantri.

Setelah Asar sebagian besar mahasiswa UPM berbondong-bondong mengunjungi “pasar ramadlan” yang terletak kira-kira 1 km dari kampus UPM. Ada satu pintu kecil di sebelah fakultas pengajian alam sekitar (di Indonesia fakultas ilmu lingkungan) dijadikan jalan pintas menuju pasar ramadlan. Pintu itu selebar 1,3 meter dilengkapi dengan besi penghalang, sehingga hanya bisa dilalui oleh pejalan kaki atau sepeda ontel.

Tidak seperti di lingkungan kampus UNEJ, yang ramai dengan pedagang dadakan menawarkan takjil di tepi jalan, sehingga terkesan semrawut dan bisa menyebabkan macet. Disini, semua penjaja disediakan satu tempat khusus “pasar ramadlan” yang terletak di lahan parkir ruko Taman Seri Serdang. Pasar ramadlan “semacam bazaar” di Indonesia, menggunakan tenda-tenda yang tertata rapi tersusun memanjang dengan ruang untuk pejalan kaki yang cukup. Segala jenis makanan dan minuman tersedia. Harga makananpun terjangkau, cukup merogoh RM 1 untuk 3 kue, satu porsi bubur, martabak, mie goring, koktail, atau berbagai jenis es. Mahasiswa UPM berbaur dengan masyarakat sekitar untuk “berburu” makanan untuk berbuka, atau untuk sahur sekali.

Pasar ramadlan bukanlah satu-satunya tempat bagi mahasiswa untuk mendapatkan makanan buka puasa. Mahasiswa internasional terutama dari Iran dan Indonesia, pergi ke Masjid kampus UPM yang menyediakan bubur rambuk, takjil dan makanan secara Cuma-cuma. Bubur rambuk dibagikan setelah solat asar. Teh hangat dan kurma sebagai menu tetap untuk takjil. Setelah solat maghrib berjama’ah, mereka pada antri mengambil piring berisi nasi, daging, sayur kemudian menuju petugas pembagi kuah gule. Bahkan, tidak sedikit yang membawa serta istri dan anak-anak mereka. Takmir Masjid menyediakan makanan dengan jumlah yang cukup, tidak pernah kurang. Setiap hari 100-300 orang berbuka puasa bersama di serambi Masjid UPM. Mereka makan sambil duduk bersila di serambi masjid. Setelah menikmati makanan dengan cita rasa khas Malaysia, “para pencari berkah ramadlan” ini antri untuk cuci tangan skalian mencuci piring serta gelas yang terbuat dari bahan melamin. Berbuka setiap hari di Masjid UPM, bisa menghemat pengeluaran selama bulan ramadlan.

Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) UPM setiap hari kamis mengadakan pengajian dan buka puasa bersama. Bertempat di international house, 70an mahasiswa UPM asal Indonesia beserta keluarga bersama-sama mengikuti pengajian dan buka puasa bersama. Program ini tentu even yang spesial, tidak hanya karena kami bisa bersilaturahim tapi juga bisa menikmati menu makanan bercitarasa khas Indonesia. Ada soto bandung, rawon, siomay, cendol, kue, dan buah-buahan. Semua makanan berasal dari sumbangan anggota PPI UPM.

Solat tarawih di Masjid UPM terasa khas karena diikuti oleh ribuan jamaah dari mahasiswa UPM dan masyarakat setempat. Solat tarawih sebanyak 20 rakaat plus 3 rakaat solat witir dilaksanakan secara khidmat. Imam solat yang semuanya hafid (hafal al-qur’an) membaca Ayat-ayat suci Al-qur’an dengan tartil. Setiap malam 1 juz dibaca dalam solat tarawih sehingga dalam sebulan bisa khatam Al-qur’an. Mungkin karena sudah terbiasa, solat tarawih yang dilaksanakan selama kurang lebih dua setengah jam pun tidak terasa lama.

Berbeda dengan di Indonesia terutama di desa-desa, dimana tadarus Alqur’an sudah membudaya, di Malaysia, setelah solat tarawih sebagian besar jama’ah langsung pulang. Terlihat sekitar 5 orang saja yang mengikuti tadarus a-qur’an di Masjid UPM. Itupun tidak menggunakan pengeras suara, sehingga tidak terdengar lantunan suara orang mengaji. Praktis setelah solat tarawih, semua orang ada di rumah, istirahat, sehingga suasana menjadi sunyi.

Kesunyian suasana ramadlan juga dikarenakan minimnya program khusus ramadlan yang ditayangkan oleh stasiun-stasiun televisi Malaysia. Adzan maghribpun hanya dikumandangkan di sela-sela iklan, tidak seperti TV Indonesia yang menyajikan Kultum menjelang berbuka. Tengah malam menjelang sahur, tidak pernah terdengar suara kentongan keliling. Bagi yang tidak mengaktifkan alarm, atau tidak ada kawan yang membangunkan, maka bisa terlewat waktu bersahur.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar