Alhamdulillah sampai juga kita pada malam ke-21 bulan ramadlan, sambil menunggu-nunggu siapa tahu Datin Laili dan Tun Qodar (lailatul qodar)datang, beberapa orang ngobrol di tasik sambil menikmati secangkir kopi panas. Kebetulan tema yang lagi in adalah tentang Al-hallaj. Para peserta keberatan kalo menggunakan bahasa rasululloh (red: arab) apalagi bahasa persi bisa salah paham. Tidak satupun yang berani menggunakan bahasa matematika ala P. catur karena takut rambutnya pada keriting atau rontok alias dapet gelar PhD (permanently hair damage ) he.he....
Wah, kalo gitu kita guna aja bahasa wartas,
A: wartas, apa itu?
B: warung tasik, he.he.
C: setuju, bahasa yang gini, kita orang pada paham, kan?
Okelah kita gunakan bahasa wartas aja. Kita beri judul
“Gila Cinta ala Al-halaj”
Dulu ada hamba sebut saja Al-halaj. Saking jatuh cintanya pada Alloh, maka tidak hanya ngelindurnya dia sebut Alloh-Alloh-Alloh, sampai-sampai saat sadar (tidak tidur) kata itulah yang keluar dari mulutnya. Pernah Al-halaj mengetuk pintu rumah tetangganya, dan ketika tuan rumah bertanya, siapa?
Al-hallaj menjawab “Alloh”, kontan saja tuan rumah jadi bingung?@#@ wah gila Al-halaj
Suatu saat yang lain Al-halaj berpapasan dengan orang, sebut saja fulan, lalu fulan bertanya, siapa ke awak ni?
Al-hallaj pun menjawab “Anal Haq”
A: sory, kadit itreng, eh, ora ngerti, opo iku ?
B: iku artine “saya sang hakiki (Alloh)”
C: iya ke? Masak Al-hallaj bilang begitu? Wah sesat dia…
B: Yah, Al-hallaj memang lupa diri (gila). Saking lupanya dia tidak ingat siapa keluarganya, dimana rumahnya, siapa namanya bahkan dia tidak tahu bahwa dia punya jasad. Tapi lupa dirinya disebabkan oleh cintanya pada Alloh.
A: wah, gak boleh diterima, itu berbahaya.
C: setuju, itu sama dengan fir’aun
B: ya, kelupaan diri Al-hallaj membuat geger orang-orang se kota bahkan mungkin se Negara.
D: Terus?....(anggota baru datang, menurutnya asik juga obrolan ini)
B: ya, akhirnya Al-halaj dihukum mati, dengan pertimbangan, ucapannya membahayakan tauhid umat islam waktu itu.
D: jadi pertimbanganya, karena bahaya atau efek samping plus efek depan (JSU, 2008)? Apa itu adil?
B: begini ilustrasinya, Al-halaj menyuguhkan makanan pada bayi-bayi dengan sate atau daging rendang lengkap dengan sambel hijaunya.
A: oh ya?
B: sabar, belum selesai nih. Nah menurut teori kedokteran, katanya, alat pencernaan bayi kan lemah dan akalnya belum bisa membedakan mana yang baik dan yang tidak. Jadi bahaya kalo para bayi memakan sate yang masih panas dilumuri bumbu dan sambel apalagi dimakan dengan tusuknya sekalian, ya bisa modar (mati)…..
C: begitu ke?
B: kira-kira…he.he.he....(orang saye juga belum ketemu Al-halaj he.he.he..)…
A: jadi bagaimana-bagaimana orang lupa diri itu bahaya, ke?
B: ya, karena omonganya tidak boleh di dengar oleh orang awam. Bisa salah faham. Tapi ngomong-ngomong tentang lupa diri, mungkin saya, dan kebanyakan manusia juga lupa diri, tapi dengan sebab yang berkebalikan dengan Al-halaj
D: maksudnya?
B: maksudnya, lupa diri karena tidak mencintai Alloh!
D: loh, gimana to ini ceritanya?
A: ya, saya masih ingat, ada suatu hadits yang menyatakan bahwa “belum sempurna iman seseorang yang belum bisa mencintai Alloh dan Rosulnya melebihi kecintaanya pada dirinya sendiri”
C: ah, gak percaya, bagaimana bunyi teks, haditsnya, siapa perowinya, macam mana sanadnya, di kitab Shohih bukhori ke? Muslim ke? Kutubussittah ke? Sehingga bagaimana implikasi hadits tersebut terhadap hukum islam?
A: wah kalo itu, tanya saja pada yang udah bisa mencontoh Rosululloh secara utuh.
B: begini aja, dari pada kita debat tapi tidak faham, sebaiknya kita gunakan bahasa sederhana saja. Kita bayangkan…
D: sebentar-sebentar (sambil menyulut sepuntung rokok lalu menerawang)
B: kita bayangkan berapa besar rahmat Alloh? Oksigen kita hirup tanpa beli, jantung berdetak tanpa diperintah dan darah mengalir dengan lancar.
D: La tukhsuha lah…..
A: apa ertinya? Gune bahasa wartas sahaja
D: maksudnya tidak bisa dihitung or uncountable kata guru bahasa inggris.
B: bayangkan berapa tabung gas oksigen kalo kita harus menggunakanya, berapa duit kalo harus operasi untuk pasang alat pemacu kerja jantung, dan bisa anfal kalo aliran darah tersumbat
A: oh ya, bisa hipertensi or darah tinggi atau stroke.
C: masyaAlloh, yang benar aja (wajahnya langsung pucat, karena minggu lalu dia baru test darah dan kadar kolesterolnya udah di atas ambang batas.....@*&^%$?
D: wah, saya terhitung lupa diri juga ya? Sebentar-sebentar saya tidak mau gila, gimana solusinya, ada yang bisa bantu?
B: ya harus belajar tau diri, berterima kasih dan mencintai Alloh yang telah melimpahkan rahmatnya.
A: bagi yang masih merasa jomblo, eh maksudnye, merasa sendiri tanpa merasakan kehadiran Tuhan, apalagi dicintai dan mencintainya, gimana solusinya?
C: saya ad ide, kita minta Ust Yony untuk membuat surat rayuan atau surat cadangan atau apalah namanya……dia kan jago?
A,B,, D: Gerrrrrrrrr
B: eh, ngomong-ngomong kecintaan kepada Alloh itu termasuk tingkatan tinggi dalam level keikhlasan lho
A: ha.. ikhlas..., apa lagi tu..?
B: ikhlas, makna tulus, bukan name surau. Ikhlas menunjukkan tingginya tingkat ketaqwaan.
C: masak iya,
B: baca aja hikmah di balik kisah rabi’ah adawiyah sang wanita sufi
D: ide baik itu, dari pada diskusi poligami..he. he.he..
C: eh, kita kembali ke topic, gila-gilaan aja. Saya pernah membaca, menurut “teori kegilaan” bahwa dari sekumpulan orang gila, yang paling gila adalah yang merasa tidak gila”
D: eh, jangan ngawur, dari mana referensinya?
C: wah kalo Tanya aja ke Bu silvy, dia kan psikolog, tapi kalo tidak bisa juga, tidak usah jadi beban, ntar pening lagi, mikir visa yang gak jadi-jadi aja bisa migraine, apalagi mikir gila? He.he.
Tiba-tiba…
Brroook!!! (suara meja lain digebrak)
Kontan peserta obrolan pada kaget. Rupanya ada preman gila (yang ini gila beneran) datang, dan minta makanan dan uang, kontan aja penjaga kedai (warung) tasik tergopoh-gopoh ngambilkan makanan
Dan uang biar dia tidak semakin berulah.
Byaar, konsentrasi obrolan buyar, kita lirik jam udah jam 2.30 malam, para peserta pada ngacir dan menuju masjid UPM untuk beri’tikaf dll, siap tau Datin Laili dan Tun Qodar sudi mampir malam ini??????
Rehat dulu……………………………………………………………………..
nasehat-penggembala
coretan bocah angon (si pengembala) di saat merumput sambil menggembala
22 Juli, 2010
21 Juli, 2010
Cahaya (repro pernik ramadlan 2006)
Selepas trawih pada malam ke 14 Ramadan ini, kulihat ada sms masuk. Adalah Trisna dengan tegur sapa sopan teman waktu KKN ini menyapa “apa kabar Pak Dosen? Eh fi’, aku dapet musibah, suamiku kecelakaan dan meninggal dunia, aku bingung, gelap, aku merasa sendirian?
Setelah membaca sms itu, kutermangu membayangkan wajah ibu muda dengan bayi berumur 20 bulan, ditinggal suaminya tercinta, hidup bersama mertua. Sebagai manusia biasa wajar bila kesedihan yang berujung pada kegundahgulanaan pun datang. Setelah kubisa mengendalikan emosi or empati, Kutelpon dia “bagaimana kondisimu sekarang?”
(-) “aku kacau fi’, kemarin aku udah bisa pasrah, tapi sekarang kacau, aku tidak tau harus gimana?..... kutanya no HPmu pada Sulifah, lalu ku sms kamu”
Penulis sempat bergumam: Ahh lho Tris, sama dengan teman-teman yang lain, kalo lagi bahagia aja lho lupa? Nikah aja kagak ngundang! Giliran ada musibah lho ingat aku… wah ..wah..wah.. Yah lagi-lagi manusia biasa gitu lho…
Ahh…Orang kacau mana bisa dinasehatin, ibarat orang buta diberi cahaya, percuma kan……. Kubilang ” ya udah terangi hatimu dengan dzikir yang banyak, jangan biarkan pikiran dan hatimu kosong atau melayang-layang seperti layang-layang putus dari benang, saya juga ikut belasungkawa.” Untuk menyamarkan kubilang “Sory saya ada tamu, jadi ntar waktu sahur kutelpon lagi” setelah itu kudengar senyum hambarnya mengakhiri pembicaraan by telpon.
Cahaya, satu kata yang mengingatkanku Pada suatu kisah ada orang yang matanya terbuka tetapi setelah sakit dia tidak bisa melihat alias buta. Setiap hari siang dan malam dia hidup sebatang kara karena keluarganya telah tiada. Kakek ini tidak pernah menyalakan lampu rumahnya baik siang maupun malam. Ketika ditanya “kenapa rumah bapak selalu gelap?” Dia menjawab “apa gunanya cahaya bagi orang buta seperti saya? Tetapi bagaimana Bapak bisa berjalan menuju mushola? “cahaya Ilahi yang membimbing saya”
Pada suatu malam di area Makam Sunan Bonang, kulihat seseorang yang buta sedang lahap menyantap makanan di warung tepi jalan itu. Hati ini terharu ketika melihat senyum lepas keluar dari mulutnya sebagai tanda dia sedang bahagia. Air matapun berlinang, aku merasa minder, ada manusia yang tidak bisa “memanfaatkan cahaya” dengan mata fisiknya tapi bisa bahagia. Dalam gelapnya malam, saat perjalanan pulang hatiku berkata, Ya Alloh terima kasihku untukMu, telah kau tunjukkan Pancaran nur (cahaya)Mu yang kau tanamkan pada hambamu (si Buta). Kuterima pantulan nurMu darinya, yang dengan Nur itu kutiada merasakan perbedaan antara siang dan malam.
Cahaya, satu kata yang kembali membuat penulis merasa bahwa kegelapan yang Trisna rasakan terjadi pula pada teman-teman yang lain dengan penyebab, intensitas dan waktu yang berbeda tapi implikasinya sama. Sikap iseng muncul, kugoda teman-teman dengan sms “masih ingat cerita tentang orang buta? Maaf orang tidak bisa memanfaatkan cahaya selama dia belum bisa melihat, termasuk anda?”
Trisna merespon smsku : “aku tidak tau maksudnya?”
(+) “bagaimana kamu bisa melihat kalo di matamu yang ada hanya suamimu, mertuamu, anakmu, hartamu, pendek kata duniamu”. Bayangin aja, sebutir kerikil yang menempel pada mata aja bisa bikin sakit, apalagi kalo kerikil itu berupa suami yang segede itu.... atau rumah, mobil bahkan bola dunia, wah ya pasti gelap, gulita, buta.....
Dengan nada ketakutan dia telpon “maksudmu apa, apa kamu menganggap bahwa aku tidak bisa dinasehati???”
(+) “ya..ya..ya...eh..enggak sih”
(-) “terus?”
(+) ”maksudku, kamu harus merelakan suamimu, ingat masa depanmu dan terutama masa depan anakmu”
(-) ”caranya?”
(+) ”kita itu sebenarnya tidak mempunyai hak milik atas suami, anak, bahkan atas diri kita sendiri. Jadi kalo Sang Empunya mengambil kembali, ya jangan gelap mata dong! Bersihkan mata (batin), baru kau bisa merasakan manfaat nur (cahaya)Nya!”
Sms yang sama kukirim ke beberapa teman. Sebagian besar membalas ”apa maksudnya?” kujawab ”cari tau di hati nuranimu!”. Tetapi ada juga yang sengaja tidak segera membalas karena takut terjebak lagi, he.he.he.. emang enak dikerjain.......
Yeni, membalas ”maksudnya gimana? Tanpa cahaya mana mungkin kita bisa membedakan warna? Begitu sms mas nafi dulu! Saya lagi di perjalanan ke Semarang seuamiku minggu lalu kecelakaan tapi Alhamdulillah tidak parah”
(+) ”wah kelihatan belum baca emailku ya (merana).........ya udahlah semoga suamimu lekas sembuh”
(-) ”maksudnya mas nafi apa sih? Aku tambah gak ngerti! Ceritanya orang IT di Tahesta yang pegang semua file dan password komputer kemarin meninggal mendadak karena kecelakaan, jadi saya belum bisa operasikan modem!”
(+)”Wah, Innalillah, ya udah hati-hati di perjalanan akeh becak ojo (banyak becak jangan) ditabrak!”
(-)”Awas lu mas! Tunggu pembalasanku, bisku mogok sekarang baru nyampek Ngawi”
Hebat juga yeni, kata-kataku yang udah bertahun-tahun masih lho inget, Ya Alhamdulillah. Tanpa cahaya emang tidak mungkin mbedakan warna, asal kamu tau aja cahaya sih selalu melimpah, pancaranya bisa membuat bumi terbelah dan langit pecah. Tapi kalo mata buta, tentu tidak bisa memanfaatkan cahaya. Sederhana kan!!.. he.he.he... gak pakek gemes lho ya...........
WWW sudah ada tiga kecelakaan, satu perjaka, satu suami meninggal dan satu lagi luka ringan. Yah semoga kagak nambah deh... Amin. Ait..ait.. Jangan esmosi (emosi) Yen!.... aku hanya berdoa semoga tidak nambah .............. yah lagi-lagi begitulah manusia biasa, maunya nuntut kebutuhannya cepat terpenuhi, bahkan ketika Tuhan berkenan menghindarkannya dari bahaya (kecelakaan) misal dengan mogoknya bis, eh.eh.eh alih-alih bersyukur dengan mencari hikmah malah mengumpat...wah.wah..wah.. Kagak jadi hebat lho, gak lulus ujian sih......... yaaa maklum deh, pengantin baru (belum jalan setahun) yang jarang ”ketemu”, voltase tinggi nih ye......................
Lain lagi dengan Tika (bukan nama sebenarnya) mahasiswi dengan gaya santri dan menjawab smsku ”Ya, mungkin saya salah satu orang yang belum bisa memanfaatkan cahaya, atau orang yang belum bisa mengusir gelap, tapi saya akan berusaha tunjukkan beda gelap dan terang. Orang yang menatap cahaya meski itu temaram, InsyaAlloh akan menyala terang di hatinya yang dalam. Wallohu A’lam”
Wow wow panjang banget smsnya, sampai terputus (maklum HP model lama). Hidup ini bisa sesak dengan kemungkinan, tapi disisi lain ada wajah yang sedang bersimpuh penuh pengharapan. Mirip dengan mata uang, terserah engkau, Hai wajah! kemana kamu akan berpaling ke gelapkah atau ke terangkah...........
Sinar mentari menerangi alam semesta. Tiada sumber cahaya alam melebihinya. Lalu bagaimana dengan ummat manusia? Yaah...... paling banter cuma seberapa besar manusia menyerap dan memantulkan kembali cahaya. Tapi sebesar apapun pantulannya, tetaplah tidak abadi. Ketika malam datang sirnalah terangnya. Bisa jadi manusia akan jadi gelap dan kalah terang dengan seekor kunang-kunang.
Ya.. kagak usah ditunjukin, walaupun redup cahaya kunang-kunang cukup untuk sekedar membedakan antara gelap dan terang. Jadi So what gitu lho...emang gelap dan terang itu beda koq, jadi tidak susah kan mencarinya?
Menurut hemat penulis, yang perlu dilakukan sebagai manusia biasa, pertama, mencari sumber cahaya hakiki yang tidak silau dengan cahaya mentari dan tidak redup dengan sinar rembulan dan dapat menjadi penerang pada gelapnya malam. Kedua, membersihkan cermin diri agar dapat menyerap dan memantulkan cahaya hakiki sehingga terangnya mampu dimanfaatkan untuk menentukan kemana dan bagaimana kaki melangkah, tangan berayun, mulut berkata, telinga mendengar, mata melihat, pikiran menerawang dan hati berdetik. Ketiga, menjaga kebersihan cermin dari pembusukan akibat penyakit internal maupun dari kerusakan akibat radiasi eksternal. Untuk itu perlu filter, sebagaimana kaca anti radiasi komputer, bahkan dalam kasus ekstrim lebih baik rahasiakan akan adanya cermin bersih yang ada di dalam diri agar tidak diketahui oleh lingkungan atau orang lain. Keempat, kalo sudah mampu, pantulkan cahaya dengan cermin pada orang lain dan lingkungan.
Karena, siapakah orang yang paling bersinar itu? Dialah yang paling bisa membuat orang lain dan lingkungannya bersinar
Lain lagi dengan Ruri, dosen baru gede (DBG) ini menjawab smsku ”Tau enggak... mata hati manusia bisa menembus segala jenis cahaya tergantung bagaimana cara menjaganya. Semoga kita termasuk orang-orang yang memiliki ketajaman mata hati.Amin
Wah, merinding juga baca smsmu, tapi entahlah, apa sebabnya penulispun tak tau, yang jelas penulis belum merasakan sinaran mata hati yang terpancar? Kagak berasa gitu lho..he.he.he. Mungkin saja karena manusia terlalu bangga dengan ketajaman mata fisiknya yang dengannya dia bisa melihat, menganalisis, dan menentukan sikap. Atau mungkin beratnya serangan penyakit hati atau hebatnya radiasi negatif dari luar? Tapi mungkin inilah indikasi umum dari manusia biasa.
manusia biasa...manusia biasa. Kenapa ada manusia biasa?Karena ada manusia istimewa. Kenapa disebut manusia biasa? Karena tidak istimewa eh tidak bercahaya. Bagaimana mendeteksinya? Caranya mudah, karena penulispun manusia biasa. Jadi tidak susah untuk mendeteksi siapa manusia biasa itu, sebagaimana penulis mudah mendeteksi manusia indonesia atau manusia jawa ha.ha.ha....
Sesama sopir, dilarang saling mendahului
Sesama maling, dilarang saling mencuri
Sesama koruptor, dilarang saling menkorupsi
dan
Sesama manusia biasa, berlombalah jadi istimewa
Wallohu A’lam
©Copiright:mataelang, 13-10-2006
Setelah membaca sms itu, kutermangu membayangkan wajah ibu muda dengan bayi berumur 20 bulan, ditinggal suaminya tercinta, hidup bersama mertua. Sebagai manusia biasa wajar bila kesedihan yang berujung pada kegundahgulanaan pun datang. Setelah kubisa mengendalikan emosi or empati, Kutelpon dia “bagaimana kondisimu sekarang?”
(-) “aku kacau fi’, kemarin aku udah bisa pasrah, tapi sekarang kacau, aku tidak tau harus gimana?..... kutanya no HPmu pada Sulifah, lalu ku sms kamu”
Penulis sempat bergumam: Ahh lho Tris, sama dengan teman-teman yang lain, kalo lagi bahagia aja lho lupa? Nikah aja kagak ngundang! Giliran ada musibah lho ingat aku… wah ..wah..wah.. Yah lagi-lagi manusia biasa gitu lho…
Ahh…Orang kacau mana bisa dinasehatin, ibarat orang buta diberi cahaya, percuma kan……. Kubilang ” ya udah terangi hatimu dengan dzikir yang banyak, jangan biarkan pikiran dan hatimu kosong atau melayang-layang seperti layang-layang putus dari benang, saya juga ikut belasungkawa.” Untuk menyamarkan kubilang “Sory saya ada tamu, jadi ntar waktu sahur kutelpon lagi” setelah itu kudengar senyum hambarnya mengakhiri pembicaraan by telpon.
Cahaya, satu kata yang mengingatkanku Pada suatu kisah ada orang yang matanya terbuka tetapi setelah sakit dia tidak bisa melihat alias buta. Setiap hari siang dan malam dia hidup sebatang kara karena keluarganya telah tiada. Kakek ini tidak pernah menyalakan lampu rumahnya baik siang maupun malam. Ketika ditanya “kenapa rumah bapak selalu gelap?” Dia menjawab “apa gunanya cahaya bagi orang buta seperti saya? Tetapi bagaimana Bapak bisa berjalan menuju mushola? “cahaya Ilahi yang membimbing saya”
Pada suatu malam di area Makam Sunan Bonang, kulihat seseorang yang buta sedang lahap menyantap makanan di warung tepi jalan itu. Hati ini terharu ketika melihat senyum lepas keluar dari mulutnya sebagai tanda dia sedang bahagia. Air matapun berlinang, aku merasa minder, ada manusia yang tidak bisa “memanfaatkan cahaya” dengan mata fisiknya tapi bisa bahagia. Dalam gelapnya malam, saat perjalanan pulang hatiku berkata, Ya Alloh terima kasihku untukMu, telah kau tunjukkan Pancaran nur (cahaya)Mu yang kau tanamkan pada hambamu (si Buta). Kuterima pantulan nurMu darinya, yang dengan Nur itu kutiada merasakan perbedaan antara siang dan malam.
Cahaya, satu kata yang kembali membuat penulis merasa bahwa kegelapan yang Trisna rasakan terjadi pula pada teman-teman yang lain dengan penyebab, intensitas dan waktu yang berbeda tapi implikasinya sama. Sikap iseng muncul, kugoda teman-teman dengan sms “masih ingat cerita tentang orang buta? Maaf orang tidak bisa memanfaatkan cahaya selama dia belum bisa melihat, termasuk anda?”
Trisna merespon smsku : “aku tidak tau maksudnya?”
(+) “bagaimana kamu bisa melihat kalo di matamu yang ada hanya suamimu, mertuamu, anakmu, hartamu, pendek kata duniamu”. Bayangin aja, sebutir kerikil yang menempel pada mata aja bisa bikin sakit, apalagi kalo kerikil itu berupa suami yang segede itu.... atau rumah, mobil bahkan bola dunia, wah ya pasti gelap, gulita, buta.....
Dengan nada ketakutan dia telpon “maksudmu apa, apa kamu menganggap bahwa aku tidak bisa dinasehati???”
(+) “ya..ya..ya...eh..enggak sih”
(-) “terus?”
(+) ”maksudku, kamu harus merelakan suamimu, ingat masa depanmu dan terutama masa depan anakmu”
(-) ”caranya?”
(+) ”kita itu sebenarnya tidak mempunyai hak milik atas suami, anak, bahkan atas diri kita sendiri. Jadi kalo Sang Empunya mengambil kembali, ya jangan gelap mata dong! Bersihkan mata (batin), baru kau bisa merasakan manfaat nur (cahaya)Nya!”
Sms yang sama kukirim ke beberapa teman. Sebagian besar membalas ”apa maksudnya?” kujawab ”cari tau di hati nuranimu!”. Tetapi ada juga yang sengaja tidak segera membalas karena takut terjebak lagi, he.he.he.. emang enak dikerjain.......
Yeni, membalas ”maksudnya gimana? Tanpa cahaya mana mungkin kita bisa membedakan warna? Begitu sms mas nafi dulu! Saya lagi di perjalanan ke Semarang seuamiku minggu lalu kecelakaan tapi Alhamdulillah tidak parah”
(+) ”wah kelihatan belum baca emailku ya (merana).........ya udahlah semoga suamimu lekas sembuh”
(-) ”maksudnya mas nafi apa sih? Aku tambah gak ngerti! Ceritanya orang IT di Tahesta yang pegang semua file dan password komputer kemarin meninggal mendadak karena kecelakaan, jadi saya belum bisa operasikan modem!”
(+)”Wah, Innalillah, ya udah hati-hati di perjalanan akeh becak ojo (banyak becak jangan) ditabrak!”
(-)”Awas lu mas! Tunggu pembalasanku, bisku mogok sekarang baru nyampek Ngawi”
Hebat juga yeni, kata-kataku yang udah bertahun-tahun masih lho inget, Ya Alhamdulillah. Tanpa cahaya emang tidak mungkin mbedakan warna, asal kamu tau aja cahaya sih selalu melimpah, pancaranya bisa membuat bumi terbelah dan langit pecah. Tapi kalo mata buta, tentu tidak bisa memanfaatkan cahaya. Sederhana kan!!.. he.he.he... gak pakek gemes lho ya...........
WWW sudah ada tiga kecelakaan, satu perjaka, satu suami meninggal dan satu lagi luka ringan. Yah semoga kagak nambah deh... Amin. Ait..ait.. Jangan esmosi (emosi) Yen!.... aku hanya berdoa semoga tidak nambah .............. yah lagi-lagi begitulah manusia biasa, maunya nuntut kebutuhannya cepat terpenuhi, bahkan ketika Tuhan berkenan menghindarkannya dari bahaya (kecelakaan) misal dengan mogoknya bis, eh.eh.eh alih-alih bersyukur dengan mencari hikmah malah mengumpat...wah.wah..wah.. Kagak jadi hebat lho, gak lulus ujian sih......... yaaa maklum deh, pengantin baru (belum jalan setahun) yang jarang ”ketemu”, voltase tinggi nih ye......................
Lain lagi dengan Tika (bukan nama sebenarnya) mahasiswi dengan gaya santri dan menjawab smsku ”Ya, mungkin saya salah satu orang yang belum bisa memanfaatkan cahaya, atau orang yang belum bisa mengusir gelap, tapi saya akan berusaha tunjukkan beda gelap dan terang. Orang yang menatap cahaya meski itu temaram, InsyaAlloh akan menyala terang di hatinya yang dalam. Wallohu A’lam”
Wow wow panjang banget smsnya, sampai terputus (maklum HP model lama). Hidup ini bisa sesak dengan kemungkinan, tapi disisi lain ada wajah yang sedang bersimpuh penuh pengharapan. Mirip dengan mata uang, terserah engkau, Hai wajah! kemana kamu akan berpaling ke gelapkah atau ke terangkah...........
Sinar mentari menerangi alam semesta. Tiada sumber cahaya alam melebihinya. Lalu bagaimana dengan ummat manusia? Yaah...... paling banter cuma seberapa besar manusia menyerap dan memantulkan kembali cahaya. Tapi sebesar apapun pantulannya, tetaplah tidak abadi. Ketika malam datang sirnalah terangnya. Bisa jadi manusia akan jadi gelap dan kalah terang dengan seekor kunang-kunang.
Ya.. kagak usah ditunjukin, walaupun redup cahaya kunang-kunang cukup untuk sekedar membedakan antara gelap dan terang. Jadi So what gitu lho...emang gelap dan terang itu beda koq, jadi tidak susah kan mencarinya?
Menurut hemat penulis, yang perlu dilakukan sebagai manusia biasa, pertama, mencari sumber cahaya hakiki yang tidak silau dengan cahaya mentari dan tidak redup dengan sinar rembulan dan dapat menjadi penerang pada gelapnya malam. Kedua, membersihkan cermin diri agar dapat menyerap dan memantulkan cahaya hakiki sehingga terangnya mampu dimanfaatkan untuk menentukan kemana dan bagaimana kaki melangkah, tangan berayun, mulut berkata, telinga mendengar, mata melihat, pikiran menerawang dan hati berdetik. Ketiga, menjaga kebersihan cermin dari pembusukan akibat penyakit internal maupun dari kerusakan akibat radiasi eksternal. Untuk itu perlu filter, sebagaimana kaca anti radiasi komputer, bahkan dalam kasus ekstrim lebih baik rahasiakan akan adanya cermin bersih yang ada di dalam diri agar tidak diketahui oleh lingkungan atau orang lain. Keempat, kalo sudah mampu, pantulkan cahaya dengan cermin pada orang lain dan lingkungan.
Karena, siapakah orang yang paling bersinar itu? Dialah yang paling bisa membuat orang lain dan lingkungannya bersinar
Lain lagi dengan Ruri, dosen baru gede (DBG) ini menjawab smsku ”Tau enggak... mata hati manusia bisa menembus segala jenis cahaya tergantung bagaimana cara menjaganya. Semoga kita termasuk orang-orang yang memiliki ketajaman mata hati.Amin
Wah, merinding juga baca smsmu, tapi entahlah, apa sebabnya penulispun tak tau, yang jelas penulis belum merasakan sinaran mata hati yang terpancar? Kagak berasa gitu lho..he.he.he. Mungkin saja karena manusia terlalu bangga dengan ketajaman mata fisiknya yang dengannya dia bisa melihat, menganalisis, dan menentukan sikap. Atau mungkin beratnya serangan penyakit hati atau hebatnya radiasi negatif dari luar? Tapi mungkin inilah indikasi umum dari manusia biasa.
manusia biasa...manusia biasa. Kenapa ada manusia biasa?Karena ada manusia istimewa. Kenapa disebut manusia biasa? Karena tidak istimewa eh tidak bercahaya. Bagaimana mendeteksinya? Caranya mudah, karena penulispun manusia biasa. Jadi tidak susah untuk mendeteksi siapa manusia biasa itu, sebagaimana penulis mudah mendeteksi manusia indonesia atau manusia jawa ha.ha.ha....
Sesama sopir, dilarang saling mendahului
Sesama maling, dilarang saling mencuri
Sesama koruptor, dilarang saling menkorupsi
dan
Sesama manusia biasa, berlombalah jadi istimewa
Wallohu A’lam
©Copiright:mataelang, 13-10-2006
20 Juli, 2010
RAMADHAN BULAN DISKON DAN GRASI
Menjelang hari raya Idul Fitri, biasanya para pedagang retail atau toko-toko berlomba menarik konsumen dengan iming-iming diskon. Booming diskon terutama pada produk pakaian dan makanan. Gayung bersambut, para pembeli yang sebagian besar umat islam berharu biru, berlomba mencari baju dan aneka kue lebaran. Tak ayal mulai dari pasar tradisional sampai supermarket ramai diserbu pengunjung. Di sepertiga terakhir bulan ramadhan, keraimaian pasar melebihi ramainya sholat jama’ah dan tadarus Al-qur’an di masjid atau mushola.
Ironi memang, tapi apa mau dikata ketika kebiasan sudah menjadi budaya. Padahal, kalo kita mau cermat, sesungguhnya Alloh SWT. telah menyediakan diskon dan grasi yang luar biasa besar bagi orang yang beriman di bulan nan penuh berkah ini.
Bagaimana tidak, surga yang dijanjikan Alloh bagi umat manusia yang bertaqwa, dapat dengan mudah diraih di bulan nan penuh rahmat ini. Paket-paket kemudahan yang tersedia begitu gampang kita jalankan, misalnya dengan tadarus (membaca) Al-qur’an maka surga yang penuh dengan kenikmatan tak trbayangkan akan merindukan kita.
Tidak hanya itu, semua amal baik umat muslim dilipatgandakan nilainya di mata Alloh. Pendek kata manusia akan dengan mudah mengumpulkan poin untuk memesan kaplingan tanah lengkap dengan rumah dan perabotnya serta kendaraan mewah di surga. Diskon yang disediakan Alloh tidak seperti diskon baju di toko-toko yang acapkali hanya tipuan, bandrol harga dinaikkan kemudian dipasang diskon hingga 70%, sehingga seolah-olah baju murah padahal tetap saja mahal. Diskon yang disediakan Alloh justru disertai dengan dibelenggunya setan sang penggoda, sehingga manusia tidak perlu mengalahkan setan untuk meniti JalanNya.
Grasi atau pengampunan atas kesalahan dan pembebasan hukuman merupakan idaman setiap nara pidana. Tidak ada manusia tanpa salah dan dosa, dan setiap Pendosa pasti mengharapkan grasi (maghfiroh) atau pengampunan atas segala kekhilafan dan dosa. Nah .. kalo grasi di negeri ini biasanya dibagi-bagikan setiap bulan kemerdekaan (Agustus), grasi bagi umat islam diobral di bulan nan penuh maghfiroh yaitu bulan ramadhan. Sebagaimana disabdakan Nabi Muhammad SAW “barang siapa yang berpuasa di bulan ramadhan karena iman dan mengharap keridhoanNya, maka Alloh akan menmgampuni dosa-dosanya yang telah lalu.
Setiap dosa manusia akan diganjar hukuman dalam penjara Alloh yaitu neraka sesuai dengan besar kecilnya dosa. Sungguh keberuntungan yang luar biasa ketika terpidana (pendosa) mendapatkan grasi sebelum dia mencicipi jeruji besi dan berkenalan dengan mafia peradilan dan yang pasti tidak perlu mengeluarkan uang.
Yah, ramadhan datang dengan kewajiban berpuasa bagi setiap mukmin, memang penuh makna. Hikmah terbesarnya adalah tercapainya ketaqwaan, sebagaimana termaktub dalam Al-qur’an surat Al-baqarah ayat 183 yang artinya “Hai orang-orang yang beriman diwajibkan kepadamu puasa sebagaimana diwajibkannya atas orang-orang sebelum kamu supaya kamu bertaqwa.”
Permasalahannya, dapatkah kita meraih tiket ke surga, kalau kita sibuk berebut diskon di Matahari atau supermarket yang lain dan melalaikan tawaran Tuhan di Masjid? Jawabannya adalah apakah setelah ramadhan berlalu, kita bisa meraih ketaqwaan ? Kalau tidak mungkin surga tetap ada dalam mimpi atau dongeng usang para Dai.
Ironi memang, tapi apa mau dikata ketika kebiasan sudah menjadi budaya. Padahal, kalo kita mau cermat, sesungguhnya Alloh SWT. telah menyediakan diskon dan grasi yang luar biasa besar bagi orang yang beriman di bulan nan penuh berkah ini.
Bagaimana tidak, surga yang dijanjikan Alloh bagi umat manusia yang bertaqwa, dapat dengan mudah diraih di bulan nan penuh rahmat ini. Paket-paket kemudahan yang tersedia begitu gampang kita jalankan, misalnya dengan tadarus (membaca) Al-qur’an maka surga yang penuh dengan kenikmatan tak trbayangkan akan merindukan kita.
Tidak hanya itu, semua amal baik umat muslim dilipatgandakan nilainya di mata Alloh. Pendek kata manusia akan dengan mudah mengumpulkan poin untuk memesan kaplingan tanah lengkap dengan rumah dan perabotnya serta kendaraan mewah di surga. Diskon yang disediakan Alloh tidak seperti diskon baju di toko-toko yang acapkali hanya tipuan, bandrol harga dinaikkan kemudian dipasang diskon hingga 70%, sehingga seolah-olah baju murah padahal tetap saja mahal. Diskon yang disediakan Alloh justru disertai dengan dibelenggunya setan sang penggoda, sehingga manusia tidak perlu mengalahkan setan untuk meniti JalanNya.
Grasi atau pengampunan atas kesalahan dan pembebasan hukuman merupakan idaman setiap nara pidana. Tidak ada manusia tanpa salah dan dosa, dan setiap Pendosa pasti mengharapkan grasi (maghfiroh) atau pengampunan atas segala kekhilafan dan dosa. Nah .. kalo grasi di negeri ini biasanya dibagi-bagikan setiap bulan kemerdekaan (Agustus), grasi bagi umat islam diobral di bulan nan penuh maghfiroh yaitu bulan ramadhan. Sebagaimana disabdakan Nabi Muhammad SAW “barang siapa yang berpuasa di bulan ramadhan karena iman dan mengharap keridhoanNya, maka Alloh akan menmgampuni dosa-dosanya yang telah lalu.
Setiap dosa manusia akan diganjar hukuman dalam penjara Alloh yaitu neraka sesuai dengan besar kecilnya dosa. Sungguh keberuntungan yang luar biasa ketika terpidana (pendosa) mendapatkan grasi sebelum dia mencicipi jeruji besi dan berkenalan dengan mafia peradilan dan yang pasti tidak perlu mengeluarkan uang.
Yah, ramadhan datang dengan kewajiban berpuasa bagi setiap mukmin, memang penuh makna. Hikmah terbesarnya adalah tercapainya ketaqwaan, sebagaimana termaktub dalam Al-qur’an surat Al-baqarah ayat 183 yang artinya “Hai orang-orang yang beriman diwajibkan kepadamu puasa sebagaimana diwajibkannya atas orang-orang sebelum kamu supaya kamu bertaqwa.”
Permasalahannya, dapatkah kita meraih tiket ke surga, kalau kita sibuk berebut diskon di Matahari atau supermarket yang lain dan melalaikan tawaran Tuhan di Masjid? Jawabannya adalah apakah setelah ramadhan berlalu, kita bisa meraih ketaqwaan ? Kalau tidak mungkin surga tetap ada dalam mimpi atau dongeng usang para Dai.
Kebohongan sistematis dan berjama'ah
Penulis sangat terkejut, prihatin dan sedih, saya tidak bisa melanjutkan kerja di lab untuk beberapa saat setelah membaca berita tentang “19 SMA favorit yang 100% siswanya tidak lulus” di seluruh Indonesia. Karena itu saya coba meluahkanya dengan menulis.
Bukanya hal ketidaklulusan, tetapi bagaimana “100 % tidak lulus” itu terjadi yang membuat hati ini menangis. Info di berbagai media menyebutkan bahwa “kecurangan secara massif dan sistematis”lah yang menyebabkan semua siswa di sekolah tersebut tidak lulus. Siswa melakukan kecurangan dengan menyontek “kunci jawaban” yang ternyata “palsu”. Dorongan siswa melakukan hal yang tidak terpuji tersebut pasti tidak hanya karena keinginannya sendiri, tetapi juga pasti guru, sekolah, dinas pendidikan bahkan pemerintah juga terlibat. Bila ditanyakan siapa yang salah atau siapa yang paling bertanggung jawab, seperti biasa kita hanya akan menyaksikan semua pihak saling lempar tanggung jawab.
Kalo orang bertanya kepada saya, jawabannya “saya turut bertanggung jawab, meski tidak terlibat”.
November 2008, dihadapan semua guru, dan Kepala Sekolah Madrasah Aliyah dan SMK Darut Taqwa Pasuruan Jatim, saya memberikan pernyataan yang keras dan mewanti-wanti agar tidak lagi ada kecurangan dalam UNAS.
“Jangan sampai kita melakukan kebohongan secara sistematis dan berjamaah untuk meluluskan anak didik kita”. karena saya khawatir suatu saat mereka akan menuntut kita untuk melakukan “kebohongan secara sistematis dan berjama’ah” untuk “menyukseskan” pencalonannya menjadi Bupati, Gubernur, bahkan Presiden. Sepertinya, kekhawatiran itu telah terjadi meski belum satu generasi bangsa Indonesia berganti.
Sudah bukan lagi rahasia umum bahwa “kecurangan” dalam UNAS terjadi. Logikanya kurang lebih seperti ini, jika prosentase siswa tidak lulus tinggi, maka guru akan terancam pekerjaan dan sumber matapencahariannya. Kepala sekolah terancam dimutasi bahkan dipecat, dan sekolah akan kehilangan reputasi dan tahun depan minat calon siswa baru akan berkurang bahkan habis sama sekali. Kepala Dinas pendidikan bahkan menteri pendidikan terancam kehilangan jabatan. Bupati, Gubernur, serta Presiden akan kehilangan muka dan citra mereka rusak sehingga gagal terpilih untuk kedua kali. Bayangan mimpi buruk itulah yang menyebabkan semua pihak tersebut kemudian memilih jalan pintas “curang”. Kecurangan yang telah terjadi setiap tahun sejak awal diberlakukannya UNAS tahun 2003, atau bahkan sejak dulu lagi, penulis belum tahu lagi.
Bukanya hal ketidaklulusan, tetapi bagaimana “100 % tidak lulus” itu terjadi yang membuat hati ini menangis. Info di berbagai media menyebutkan bahwa “kecurangan secara massif dan sistematis”lah yang menyebabkan semua siswa di sekolah tersebut tidak lulus. Siswa melakukan kecurangan dengan menyontek “kunci jawaban” yang ternyata “palsu”. Dorongan siswa melakukan hal yang tidak terpuji tersebut pasti tidak hanya karena keinginannya sendiri, tetapi juga pasti guru, sekolah, dinas pendidikan bahkan pemerintah juga terlibat. Bila ditanyakan siapa yang salah atau siapa yang paling bertanggung jawab, seperti biasa kita hanya akan menyaksikan semua pihak saling lempar tanggung jawab.
Kalo orang bertanya kepada saya, jawabannya “saya turut bertanggung jawab, meski tidak terlibat”.
November 2008, dihadapan semua guru, dan Kepala Sekolah Madrasah Aliyah dan SMK Darut Taqwa Pasuruan Jatim, saya memberikan pernyataan yang keras dan mewanti-wanti agar tidak lagi ada kecurangan dalam UNAS.
“Jangan sampai kita melakukan kebohongan secara sistematis dan berjamaah untuk meluluskan anak didik kita”. karena saya khawatir suatu saat mereka akan menuntut kita untuk melakukan “kebohongan secara sistematis dan berjama’ah” untuk “menyukseskan” pencalonannya menjadi Bupati, Gubernur, bahkan Presiden. Sepertinya, kekhawatiran itu telah terjadi meski belum satu generasi bangsa Indonesia berganti.
Sudah bukan lagi rahasia umum bahwa “kecurangan” dalam UNAS terjadi. Logikanya kurang lebih seperti ini, jika prosentase siswa tidak lulus tinggi, maka guru akan terancam pekerjaan dan sumber matapencahariannya. Kepala sekolah terancam dimutasi bahkan dipecat, dan sekolah akan kehilangan reputasi dan tahun depan minat calon siswa baru akan berkurang bahkan habis sama sekali. Kepala Dinas pendidikan bahkan menteri pendidikan terancam kehilangan jabatan. Bupati, Gubernur, serta Presiden akan kehilangan muka dan citra mereka rusak sehingga gagal terpilih untuk kedua kali. Bayangan mimpi buruk itulah yang menyebabkan semua pihak tersebut kemudian memilih jalan pintas “curang”. Kecurangan yang telah terjadi setiap tahun sejak awal diberlakukannya UNAS tahun 2003, atau bahkan sejak dulu lagi, penulis belum tahu lagi.
Ramadlan di Negeri Jiran
Tahun 2009 adalah tahun kedua kami menikmati suasana ramadlan di Malaysia, tepatnya di lingkungan Kampus Universiti Putra Malaysia (UPM). Sebagaimana tahun lalu, suasana ramadlan disini tidak jauh beda dengan di Indonesia. Mungkin karena Malaysia dihuni sebagian besar bangsa melayu. Meski, tidak semeriah Ramadlan di Indonesia, tetap ada beberapa hal yang unik disini, yang menarik untuk dibaca.
Berpuasa sehari penuh di UPM terasa lebih lama dibanding berpuasa di Jember. Panas matahari yang menyengat, karena kawasan Serdang berada di bawah garis ekuator. Bila biasanya hampir semua orang selalu membawa air minum, saat puasa kami hanya bisa menelan lidah. Terlebih melihat banyaknya mahasiswa bangsa cina dan india makan dan minum dimana saja dan kapan saja. Luasnya kampus UPM yang lebih dari 1000 Ha, dan jarak antar gedung yang berjauhan, juga berkontribusi pada terbakarnya kalori saat kami berjalan kaki. Beruntung, bagi yang sudah punya kendaraan sendiri, seperti motor, dan mobil, karena bila menunggu bus kampus, terkadang lama dan ngantri.
Setelah Asar sebagian besar mahasiswa UPM berbondong-bondong mengunjungi “pasar ramadlan” yang terletak kira-kira 1 km dari kampus UPM. Ada satu pintu kecil di sebelah fakultas pengajian alam sekitar (di Indonesia fakultas ilmu lingkungan) dijadikan jalan pintas menuju pasar ramadlan. Pintu itu selebar 1,3 meter dilengkapi dengan besi penghalang, sehingga hanya bisa dilalui oleh pejalan kaki atau sepeda ontel.
Tidak seperti di lingkungan kampus UNEJ, yang ramai dengan pedagang dadakan menawarkan takjil di tepi jalan, sehingga terkesan semrawut dan bisa menyebabkan macet. Disini, semua penjaja disediakan satu tempat khusus “pasar ramadlan” yang terletak di lahan parkir ruko Taman Seri Serdang. Pasar ramadlan “semacam bazaar” di Indonesia, menggunakan tenda-tenda yang tertata rapi tersusun memanjang dengan ruang untuk pejalan kaki yang cukup. Segala jenis makanan dan minuman tersedia. Harga makananpun terjangkau, cukup merogoh RM 1 untuk 3 kue, satu porsi bubur, martabak, mie goring, koktail, atau berbagai jenis es. Mahasiswa UPM berbaur dengan masyarakat sekitar untuk “berburu” makanan untuk berbuka, atau untuk sahur sekali.
Pasar ramadlan bukanlah satu-satunya tempat bagi mahasiswa untuk mendapatkan makanan buka puasa. Mahasiswa internasional terutama dari Iran dan Indonesia, pergi ke Masjid kampus UPM yang menyediakan bubur rambuk, takjil dan makanan secara Cuma-cuma. Bubur rambuk dibagikan setelah solat asar. Teh hangat dan kurma sebagai menu tetap untuk takjil. Setelah solat maghrib berjama’ah, mereka pada antri mengambil piring berisi nasi, daging, sayur kemudian menuju petugas pembagi kuah gule. Bahkan, tidak sedikit yang membawa serta istri dan anak-anak mereka. Takmir Masjid menyediakan makanan dengan jumlah yang cukup, tidak pernah kurang. Setiap hari 100-300 orang berbuka puasa bersama di serambi Masjid UPM. Mereka makan sambil duduk bersila di serambi masjid. Setelah menikmati makanan dengan cita rasa khas Malaysia, “para pencari berkah ramadlan” ini antri untuk cuci tangan skalian mencuci piring serta gelas yang terbuat dari bahan melamin. Berbuka setiap hari di Masjid UPM, bisa menghemat pengeluaran selama bulan ramadlan.
Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) UPM setiap hari kamis mengadakan pengajian dan buka puasa bersama. Bertempat di international house, 70an mahasiswa UPM asal Indonesia beserta keluarga bersama-sama mengikuti pengajian dan buka puasa bersama. Program ini tentu even yang spesial, tidak hanya karena kami bisa bersilaturahim tapi juga bisa menikmati menu makanan bercitarasa khas Indonesia. Ada soto bandung, rawon, siomay, cendol, kue, dan buah-buahan. Semua makanan berasal dari sumbangan anggota PPI UPM.
Solat tarawih di Masjid UPM terasa khas karena diikuti oleh ribuan jamaah dari mahasiswa UPM dan masyarakat setempat. Solat tarawih sebanyak 20 rakaat plus 3 rakaat solat witir dilaksanakan secara khidmat. Imam solat yang semuanya hafid (hafal al-qur’an) membaca Ayat-ayat suci Al-qur’an dengan tartil. Setiap malam 1 juz dibaca dalam solat tarawih sehingga dalam sebulan bisa khatam Al-qur’an. Mungkin karena sudah terbiasa, solat tarawih yang dilaksanakan selama kurang lebih dua setengah jam pun tidak terasa lama.
Berbeda dengan di Indonesia terutama di desa-desa, dimana tadarus Alqur’an sudah membudaya, di Malaysia, setelah solat tarawih sebagian besar jama’ah langsung pulang. Terlihat sekitar 5 orang saja yang mengikuti tadarus a-qur’an di Masjid UPM. Itupun tidak menggunakan pengeras suara, sehingga tidak terdengar lantunan suara orang mengaji. Praktis setelah solat tarawih, semua orang ada di rumah, istirahat, sehingga suasana menjadi sunyi.
Kesunyian suasana ramadlan juga dikarenakan minimnya program khusus ramadlan yang ditayangkan oleh stasiun-stasiun televisi Malaysia. Adzan maghribpun hanya dikumandangkan di sela-sela iklan, tidak seperti TV Indonesia yang menyajikan Kultum menjelang berbuka. Tengah malam menjelang sahur, tidak pernah terdengar suara kentongan keliling. Bagi yang tidak mengaktifkan alarm, atau tidak ada kawan yang membangunkan, maka bisa terlewat waktu bersahur.
Berpuasa sehari penuh di UPM terasa lebih lama dibanding berpuasa di Jember. Panas matahari yang menyengat, karena kawasan Serdang berada di bawah garis ekuator. Bila biasanya hampir semua orang selalu membawa air minum, saat puasa kami hanya bisa menelan lidah. Terlebih melihat banyaknya mahasiswa bangsa cina dan india makan dan minum dimana saja dan kapan saja. Luasnya kampus UPM yang lebih dari 1000 Ha, dan jarak antar gedung yang berjauhan, juga berkontribusi pada terbakarnya kalori saat kami berjalan kaki. Beruntung, bagi yang sudah punya kendaraan sendiri, seperti motor, dan mobil, karena bila menunggu bus kampus, terkadang lama dan ngantri.
Setelah Asar sebagian besar mahasiswa UPM berbondong-bondong mengunjungi “pasar ramadlan” yang terletak kira-kira 1 km dari kampus UPM. Ada satu pintu kecil di sebelah fakultas pengajian alam sekitar (di Indonesia fakultas ilmu lingkungan) dijadikan jalan pintas menuju pasar ramadlan. Pintu itu selebar 1,3 meter dilengkapi dengan besi penghalang, sehingga hanya bisa dilalui oleh pejalan kaki atau sepeda ontel.
Tidak seperti di lingkungan kampus UNEJ, yang ramai dengan pedagang dadakan menawarkan takjil di tepi jalan, sehingga terkesan semrawut dan bisa menyebabkan macet. Disini, semua penjaja disediakan satu tempat khusus “pasar ramadlan” yang terletak di lahan parkir ruko Taman Seri Serdang. Pasar ramadlan “semacam bazaar” di Indonesia, menggunakan tenda-tenda yang tertata rapi tersusun memanjang dengan ruang untuk pejalan kaki yang cukup. Segala jenis makanan dan minuman tersedia. Harga makananpun terjangkau, cukup merogoh RM 1 untuk 3 kue, satu porsi bubur, martabak, mie goring, koktail, atau berbagai jenis es. Mahasiswa UPM berbaur dengan masyarakat sekitar untuk “berburu” makanan untuk berbuka, atau untuk sahur sekali.
Pasar ramadlan bukanlah satu-satunya tempat bagi mahasiswa untuk mendapatkan makanan buka puasa. Mahasiswa internasional terutama dari Iran dan Indonesia, pergi ke Masjid kampus UPM yang menyediakan bubur rambuk, takjil dan makanan secara Cuma-cuma. Bubur rambuk dibagikan setelah solat asar. Teh hangat dan kurma sebagai menu tetap untuk takjil. Setelah solat maghrib berjama’ah, mereka pada antri mengambil piring berisi nasi, daging, sayur kemudian menuju petugas pembagi kuah gule. Bahkan, tidak sedikit yang membawa serta istri dan anak-anak mereka. Takmir Masjid menyediakan makanan dengan jumlah yang cukup, tidak pernah kurang. Setiap hari 100-300 orang berbuka puasa bersama di serambi Masjid UPM. Mereka makan sambil duduk bersila di serambi masjid. Setelah menikmati makanan dengan cita rasa khas Malaysia, “para pencari berkah ramadlan” ini antri untuk cuci tangan skalian mencuci piring serta gelas yang terbuat dari bahan melamin. Berbuka setiap hari di Masjid UPM, bisa menghemat pengeluaran selama bulan ramadlan.
Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) UPM setiap hari kamis mengadakan pengajian dan buka puasa bersama. Bertempat di international house, 70an mahasiswa UPM asal Indonesia beserta keluarga bersama-sama mengikuti pengajian dan buka puasa bersama. Program ini tentu even yang spesial, tidak hanya karena kami bisa bersilaturahim tapi juga bisa menikmati menu makanan bercitarasa khas Indonesia. Ada soto bandung, rawon, siomay, cendol, kue, dan buah-buahan. Semua makanan berasal dari sumbangan anggota PPI UPM.
Solat tarawih di Masjid UPM terasa khas karena diikuti oleh ribuan jamaah dari mahasiswa UPM dan masyarakat setempat. Solat tarawih sebanyak 20 rakaat plus 3 rakaat solat witir dilaksanakan secara khidmat. Imam solat yang semuanya hafid (hafal al-qur’an) membaca Ayat-ayat suci Al-qur’an dengan tartil. Setiap malam 1 juz dibaca dalam solat tarawih sehingga dalam sebulan bisa khatam Al-qur’an. Mungkin karena sudah terbiasa, solat tarawih yang dilaksanakan selama kurang lebih dua setengah jam pun tidak terasa lama.
Berbeda dengan di Indonesia terutama di desa-desa, dimana tadarus Alqur’an sudah membudaya, di Malaysia, setelah solat tarawih sebagian besar jama’ah langsung pulang. Terlihat sekitar 5 orang saja yang mengikuti tadarus a-qur’an di Masjid UPM. Itupun tidak menggunakan pengeras suara, sehingga tidak terdengar lantunan suara orang mengaji. Praktis setelah solat tarawih, semua orang ada di rumah, istirahat, sehingga suasana menjadi sunyi.
Kesunyian suasana ramadlan juga dikarenakan minimnya program khusus ramadlan yang ditayangkan oleh stasiun-stasiun televisi Malaysia. Adzan maghribpun hanya dikumandangkan di sela-sela iklan, tidak seperti TV Indonesia yang menyajikan Kultum menjelang berbuka. Tengah malam menjelang sahur, tidak pernah terdengar suara kentongan keliling. Bagi yang tidak mengaktifkan alarm, atau tidak ada kawan yang membangunkan, maka bisa terlewat waktu bersahur.
Renungan Seorang Anak Indonesia
Mengetahui bahwa beberapa kawan dari Jember datang ke Malaysia untuk mempresentasikan papernya pada Malaysia international coco conference, saya merasa senang dan ingin segera menemui mereka. Di tengah kesibukan penelitian di lab, akhirnya hari ini saya bisa pergi ke Berjaya times square tempat konferensi diselenggarakan. Meski harus kecewa karena tidak sempat bertemu Dr. S yang telah pulang lebih dulu, namun bertemu Dr. M dan kawan-kawan cukup untuk menimba pengalaman dari mereka. Terlebih Dr. M terbilang sukses menempuh S2 kemudian convert S3 di UPM dalam waktu 3,5 tahun. Ketika saya bertanya, apa kunci sukses studi di UPM, beliau menjawab secara singkat “doa”. Sebuah kata, yang meski setiap hari, bahkan setiap saat penulis panjatkan, tetapi ketika kata-kata itu keluar dari mulut seorang peneliti, maka tetap memberikan kesan yang berbeda.
Dalam suasana “kekeluargaan” sambil menyantap jamuan makan malam di sebuah restoran di kompleks Berjaya time’s square, saya terharu bahwa Alloh SWT telah memberikan rahmat yang luar biasa kepada mereka, sehingga putra-putra Indonesia bisa berpartisipasi sekaligus menimba ilmu dan meraih pengalaman di banyak belahan dunia, eropa, amerika, dan lainya. Dalam perjalanan pulang ke serdang, dalam KRL saya berfikir, pasti banyak sekali ilmu dan nilai-nilai positif yang mereka peroleh. Saya yakin ratusan, ribuan, bahkan ratusan ribu orang Indonesia telah diberi kesempatan dan kesuksesan dalam menuntut ilmu di manca Negara. Dalam lamunan saya membayangkan, seandainya ilmu mereka bisa “berkah” kepada bangsa dan rakyat tentu Indonesia tidak merana.
saya pun, yang juga merupakan satu diantara ratusan ribu orang indonesia yang berkesempatan kuliah di luar negeri, berfikir “seandainya ilmu ini bisa memberi berkah kepada rakyat indonesia, tentu senyuman bahagia mereka bisa membahana”.
Tapi,…. Saat ini, kebanyakan mereka justru menangis…
Dalam ketidakberdayaan, mereka hanya bisa “ber-andai-andai”
Seandainya pertanian di Indonesia maju, tentu 60 % penduduk indonesia yang notabene adalah petani tidak akan miskin dan termarjinalkan.
Seandainya ekonomi Indonesia mapan, tentu tidak mereka tidak terjerat hutang dan susah makan.
Seandainya pendidikan Indonesia baik, tentu rakyat tidak terkungkung dalam kebodohan.
Seandainya…………
seandainya…..
seandainya…
Dulu, Ir soekarno bersama kaum terpelajar lainya, telah sukses mengantar Indonesia “merdeka” dan berdaulat sebagai Negara. Bisakah kaum cendikiawan yang saat ini ada, mampu membawa rakyat Indonesia “merdeka” sebagai Bangsa atau bahkan sebagai manusia.
Dalam suasana “kekeluargaan” sambil menyantap jamuan makan malam di sebuah restoran di kompleks Berjaya time’s square, saya terharu bahwa Alloh SWT telah memberikan rahmat yang luar biasa kepada mereka, sehingga putra-putra Indonesia bisa berpartisipasi sekaligus menimba ilmu dan meraih pengalaman di banyak belahan dunia, eropa, amerika, dan lainya. Dalam perjalanan pulang ke serdang, dalam KRL saya berfikir, pasti banyak sekali ilmu dan nilai-nilai positif yang mereka peroleh. Saya yakin ratusan, ribuan, bahkan ratusan ribu orang Indonesia telah diberi kesempatan dan kesuksesan dalam menuntut ilmu di manca Negara. Dalam lamunan saya membayangkan, seandainya ilmu mereka bisa “berkah” kepada bangsa dan rakyat tentu Indonesia tidak merana.
saya pun, yang juga merupakan satu diantara ratusan ribu orang indonesia yang berkesempatan kuliah di luar negeri, berfikir “seandainya ilmu ini bisa memberi berkah kepada rakyat indonesia, tentu senyuman bahagia mereka bisa membahana”.
Tapi,…. Saat ini, kebanyakan mereka justru menangis…
Dalam ketidakberdayaan, mereka hanya bisa “ber-andai-andai”
Seandainya pertanian di Indonesia maju, tentu 60 % penduduk indonesia yang notabene adalah petani tidak akan miskin dan termarjinalkan.
Seandainya ekonomi Indonesia mapan, tentu tidak mereka tidak terjerat hutang dan susah makan.
Seandainya pendidikan Indonesia baik, tentu rakyat tidak terkungkung dalam kebodohan.
Seandainya…………
seandainya…..
seandainya…
Dulu, Ir soekarno bersama kaum terpelajar lainya, telah sukses mengantar Indonesia “merdeka” dan berdaulat sebagai Negara. Bisakah kaum cendikiawan yang saat ini ada, mampu membawa rakyat Indonesia “merdeka” sebagai Bangsa atau bahkan sebagai manusia.
Langganan:
Postingan (Atom)