21 Juli, 2010

Cahaya (repro pernik ramadlan 2006)

Selepas trawih pada malam ke 14 Ramadan ini, kulihat ada sms masuk. Adalah Trisna dengan tegur sapa sopan teman waktu KKN ini menyapa “apa kabar Pak Dosen? Eh fi’, aku dapet musibah, suamiku kecelakaan dan meninggal dunia, aku bingung, gelap, aku merasa sendirian?

Setelah membaca sms itu, kutermangu membayangkan wajah ibu muda dengan bayi berumur 20 bulan, ditinggal suaminya tercinta, hidup bersama mertua. Sebagai manusia biasa wajar bila kesedihan yang berujung pada kegundahgulanaan pun datang. Setelah kubisa mengendalikan emosi or empati, Kutelpon dia “bagaimana kondisimu sekarang?”
(-) “aku kacau fi’, kemarin aku udah bisa pasrah, tapi sekarang kacau, aku tidak tau harus gimana?..... kutanya no HPmu pada Sulifah, lalu ku sms kamu”
Penulis sempat bergumam: Ahh lho Tris, sama dengan teman-teman yang lain, kalo lagi bahagia aja lho lupa? Nikah aja kagak ngundang! Giliran ada musibah lho ingat aku… wah ..wah..wah.. Yah lagi-lagi manusia biasa gitu lho…

Ahh…Orang kacau mana bisa dinasehatin, ibarat orang buta diberi cahaya, percuma kan……. Kubilang ” ya udah terangi hatimu dengan dzikir yang banyak, jangan biarkan pikiran dan hatimu kosong atau melayang-layang seperti layang-layang putus dari benang, saya juga ikut belasungkawa.” Untuk menyamarkan kubilang “Sory saya ada tamu, jadi ntar waktu sahur kutelpon lagi” setelah itu kudengar senyum hambarnya mengakhiri pembicaraan by telpon.

Cahaya, satu kata yang mengingatkanku Pada suatu kisah ada orang yang matanya terbuka tetapi setelah sakit dia tidak bisa melihat alias buta. Setiap hari siang dan malam dia hidup sebatang kara karena keluarganya telah tiada. Kakek ini tidak pernah menyalakan lampu rumahnya baik siang maupun malam. Ketika ditanya “kenapa rumah bapak selalu gelap?” Dia menjawab “apa gunanya cahaya bagi orang buta seperti saya? Tetapi bagaimana Bapak bisa berjalan menuju mushola? “cahaya Ilahi yang membimbing saya
Pada suatu malam di area Makam Sunan Bonang, kulihat seseorang yang buta sedang lahap menyantap makanan di warung tepi jalan itu. Hati ini terharu ketika melihat senyum lepas keluar dari mulutnya sebagai tanda dia sedang bahagia. Air matapun berlinang, aku merasa minder, ada manusia yang tidak bisa “memanfaatkan cahaya” dengan mata fisiknya tapi bisa bahagia. Dalam gelapnya malam, saat perjalanan pulang hatiku berkata, Ya Alloh terima kasihku untukMu, telah kau tunjukkan Pancaran nur (cahaya)Mu yang kau tanamkan pada hambamu (si Buta). Kuterima pantulan nurMu darinya, yang dengan Nur itu kutiada merasakan perbedaan antara siang dan malam.

Cahaya, satu kata yang kembali membuat penulis merasa bahwa kegelapan yang Trisna rasakan terjadi pula pada teman-teman yang lain dengan penyebab, intensitas dan waktu yang berbeda tapi implikasinya sama. Sikap iseng muncul, kugoda teman-teman dengan sms “masih ingat cerita tentang orang buta? Maaf orang tidak bisa memanfaatkan cahaya selama dia belum bisa melihat, termasuk anda?
Trisna merespon smsku : “aku tidak tau maksudnya?”
(+) “bagaimana kamu bisa melihat kalo di matamu yang ada hanya suamimu, mertuamu, anakmu, hartamu, pendek kata duniamu”. Bayangin aja, sebutir kerikil yang menempel pada mata aja bisa bikin sakit, apalagi kalo kerikil itu berupa suami yang segede itu.... atau rumah, mobil bahkan bola dunia, wah ya pasti gelap, gulita, buta.....
Dengan nada ketakutan dia telpon “maksudmu apa, apa kamu menganggap bahwa aku tidak bisa dinasehati???”
(+) “ya..ya..ya...eh..enggak sih”
(-) “terus?”
(+) ”maksudku, kamu harus merelakan suamimu, ingat masa depanmu dan terutama masa depan anakmu”
(-) ”caranya?”
(+) ”kita itu sebenarnya tidak mempunyai hak milik atas suami, anak, bahkan atas diri kita sendiri. Jadi kalo Sang Empunya mengambil kembali, ya jangan gelap mata dong! Bersihkan mata (batin), baru kau bisa merasakan manfaat nur (cahaya)Nya!”

Sms yang sama kukirim ke beberapa teman. Sebagian besar membalas ”apa maksudnya?” kujawab ”cari tau di hati nuranimu!”. Tetapi ada juga yang sengaja tidak segera membalas karena takut terjebak lagi, he.he.he.. emang enak dikerjain.......
Yeni, membalas ”maksudnya gimana? Tanpa cahaya mana mungkin kita bisa membedakan warna? Begitu sms mas nafi dulu! Saya lagi di perjalanan ke Semarang seuamiku minggu lalu kecelakaan tapi Alhamdulillah tidak parah”
(+) ”wah kelihatan belum baca emailku ya (merana).........ya udahlah semoga suamimu lekas sembuh”
(-) ”maksudnya mas nafi apa sih? Aku tambah gak ngerti! Ceritanya orang IT di Tahesta yang pegang semua file dan password komputer kemarin meninggal mendadak karena kecelakaan, jadi saya belum bisa operasikan modem!”
(+)”Wah, Innalillah, ya udah hati-hati di perjalanan akeh becak ojo (banyak becak jangan) ditabrak!”
(-)”Awas lu mas! Tunggu pembalasanku, bisku mogok sekarang baru nyampek Ngawi”

Hebat juga yeni, kata-kataku yang udah bertahun-tahun masih lho inget, Ya Alhamdulillah. Tanpa cahaya emang tidak mungkin mbedakan warna, asal kamu tau aja cahaya sih selalu melimpah, pancaranya bisa membuat bumi terbelah dan langit pecah. Tapi kalo mata buta, tentu tidak bisa memanfaatkan cahaya. Sederhana kan!!.. he.he.he... gak pakek gemes lho ya...........

WWW sudah ada tiga kecelakaan, satu perjaka, satu suami meninggal dan satu lagi luka ringan. Yah semoga kagak nambah deh... Amin. Ait..ait.. Jangan esmosi (emosi) Yen!.... aku hanya berdoa semoga tidak nambah .............. yah lagi-lagi begitulah manusia biasa, maunya nuntut kebutuhannya cepat terpenuhi, bahkan ketika Tuhan berkenan menghindarkannya dari bahaya (kecelakaan) misal dengan mogoknya bis, eh.eh.eh alih-alih bersyukur dengan mencari hikmah malah mengumpat...wah.wah..wah.. Kagak jadi hebat lho, gak lulus ujian sih......... yaaa maklum deh, pengantin baru (belum jalan setahun) yang jarang ”ketemu”, voltase tinggi nih ye......................

Lain lagi dengan Tika (bukan nama sebenarnya) mahasiswi dengan gaya santri dan menjawab smsku ”Ya, mungkin saya salah satu orang yang belum bisa memanfaatkan cahaya, atau orang yang belum bisa mengusir gelap, tapi saya akan berusaha tunjukkan beda gelap dan terang. Orang yang menatap cahaya meski itu temaram, InsyaAlloh akan menyala terang di hatinya yang dalam. Wallohu A’lam”
Wow wow panjang banget smsnya, sampai terputus (maklum HP model lama). Hidup ini bisa sesak dengan kemungkinan, tapi disisi lain ada wajah yang sedang bersimpuh penuh pengharapan. Mirip dengan mata uang, terserah engkau, Hai wajah! kemana kamu akan berpaling ke gelapkah atau ke terangkah...........

Sinar mentari menerangi alam semesta. Tiada sumber cahaya alam melebihinya. Lalu bagaimana dengan ummat manusia? Yaah...... paling banter cuma seberapa besar manusia menyerap dan memantulkan kembali cahaya. Tapi sebesar apapun pantulannya, tetaplah tidak abadi. Ketika malam datang sirnalah terangnya. Bisa jadi manusia akan jadi gelap dan kalah terang dengan seekor kunang-kunang.
Ya.. kagak usah ditunjukin, walaupun redup cahaya kunang-kunang cukup untuk sekedar membedakan antara gelap dan terang. Jadi So what gitu lho...emang gelap dan terang itu beda koq, jadi tidak susah kan mencarinya?

Menurut hemat penulis, yang perlu dilakukan sebagai manusia biasa, pertama, mencari sumber cahaya hakiki yang tidak silau dengan cahaya mentari dan tidak redup dengan sinar rembulan dan dapat menjadi penerang pada gelapnya malam. Kedua, membersihkan cermin diri agar dapat menyerap dan memantulkan cahaya hakiki sehingga terangnya mampu dimanfaatkan untuk menentukan kemana dan bagaimana kaki melangkah, tangan berayun, mulut berkata, telinga mendengar, mata melihat, pikiran menerawang dan hati berdetik. Ketiga, menjaga kebersihan cermin dari pembusukan akibat penyakit internal maupun dari kerusakan akibat radiasi eksternal. Untuk itu perlu filter, sebagaimana kaca anti radiasi komputer, bahkan dalam kasus ekstrim lebih baik rahasiakan akan adanya cermin bersih yang ada di dalam diri agar tidak diketahui oleh lingkungan atau orang lain. Keempat, kalo sudah mampu, pantulkan cahaya dengan cermin pada orang lain dan lingkungan.
Karena, siapakah orang yang paling bersinar itu? Dialah yang paling bisa membuat orang lain dan lingkungannya bersinar

Lain lagi dengan Ruri, dosen baru gede (DBG) ini menjawab smsku ”Tau enggak... mata hati manusia bisa menembus segala jenis cahaya tergantung bagaimana cara menjaganya. Semoga kita termasuk orang-orang yang memiliki ketajaman mata hati.Amin

Wah, merinding juga baca smsmu, tapi entahlah, apa sebabnya penulispun tak tau, yang jelas penulis belum merasakan sinaran mata hati yang terpancar? Kagak berasa gitu lho..he.he.he. Mungkin saja karena manusia terlalu bangga dengan ketajaman mata fisiknya yang dengannya dia bisa melihat, menganalisis, dan menentukan sikap. Atau mungkin beratnya serangan penyakit hati atau hebatnya radiasi negatif dari luar? Tapi mungkin inilah indikasi umum dari manusia biasa.

manusia biasa...manusia biasa. Kenapa ada manusia biasa?Karena ada manusia istimewa. Kenapa disebut manusia biasa? Karena tidak istimewa eh tidak bercahaya. Bagaimana mendeteksinya? Caranya mudah, karena penulispun manusia biasa. Jadi tidak susah untuk mendeteksi siapa manusia biasa itu, sebagaimana penulis mudah mendeteksi manusia indonesia atau manusia jawa ha.ha.ha....
Sesama sopir, dilarang saling mendahului
Sesama maling, dilarang saling mencuri
Sesama koruptor, dilarang saling menkorupsi
dan
Sesama manusia biasa, berlombalah jadi istimewa

Wallohu A’lam
©Copiright:mataelang, 13-10-2006

Tidak ada komentar:

Posting Komentar